Teori-Teori Perubahan Sosial Budaya – Sejarah tahapan perkembangan manusia selalu berubah-berubah dari masa prasejarah, feodalisme, pertanian, industrialisasi, sampai pada globalisasi yang sekarang berkembang. Karena untuk mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan hidupnya, manusia mengalami dinamika perubahan yang bersifat dinamis.

Manusia selalu berusaha untuk melakukan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, penduduk Eskimo yang selalu menggunakan baju tebal untuk melindungi tubuhnya dari rasa dingin.

Adaptasi menuntut pola-pola perilaku yang dapat membantu manusia mengatasi persoalan hidup, membantu mempermudah pekerjaannya dan melindungi diri dari bahaya. Teknologi yang semakin

modern dan canggih mampu mengubah manusia dari kebiasaan dan budaya yang selama ini disepakati. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami dinamika kebudayaan manusia yang selalu berubah-ubah agar manusia mampu memperbaiki kualitas hidupnya.

Ketika manusia mengalami perubahan, maka masyarakat juga tidak terlepas mengalami perubahan. Perubahan dan dinamika merupakan akibat dari adanya interaksi antarmanusia dan antarkelompok. Perubahan dan dinamika yang terjadi berupa perubahan nilai-nilai sosial, norma-norma yang berlaku di masyarakat, pola-pola perilaku, perubahan susunan kelembagaan, dan masih banyak lagi.

Pengertian perubahan sosial budaya adalah segala bentuk perubahan struktur sosial dan struktur budaya termasuk corak kebudayaannya sebagai akibat adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur sosial budaya yang baru yang dianggap ideal.

Menurut Kingsley Davis, perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan yang terjadi di dalam struktur dan fungsi masyarakat. Mac Iver menyebutkan perubahan sosial sebagai perubahan

dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan dalam hubungan sosial.

Perubahan sosial selalu terjadi di dalam masyarakat dan merupakan sesuatu hal wajar sepanjang manusia saling berinteraksi dan bersosialisasi.

Teori-Teori Perubahan Sosial Budaya

1. Teori Evolusi

Durkheim mengungkapkan sebuah pendapat bahwa perubahan karena evolusi memengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja. Ferdinand Tonies, memiliki pandangan bahwa masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif menjadi tipe masyarakat besar yang mempunyai hubungan khusus dan impersonal.

Tonies tidak yakin bahwa perubahan-perubahan tersebut membawa kemajuan. Bahkan dia melihat adanya fragmentasi sosial (perpecahan dalam masyarakat), individu menjadi terasing dan lemahnya ikatan sosial sebagai akibat langsung dari perubahan sosial budaya ke arah individualisasi dan pencarian kekuasaan. Gejala ini tampak jelas pada masyarakat perkotaan. Teori ini hanya menjelaskan bagaimana proses perubahan terjadi.

2. Teori Konflik

Konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok yang tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting

dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial.

Ralph Dahrendorf mengutarakan pendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas kepentingan di masyarakat. Konflik dan pertentangan selalu muncul dalam setiap bagian masyarakat. Prinsip dasar teori konflik yaitu konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat dalam struktur kehidupan masyarakat.

3. Teori Fungsionalis

Pemikiran fungsionalis ini berasal dari konsep goncangan budaya (cultural lag) dari William Ogburn. Meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah-ubah dengan sangat cepat sementara unsur lainnya tidak secepat itu sehingga tertinggal di belakang.

Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial dan budaya antara unsur-unsurnya yang berubah sangat lambat dan unsur yang berubah sangat cepat. Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya goncangan budaya sosial budaya dalam masyarakat.

Contohnya yaitu perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial seperti kepercayaan yang mengatur masyarakat. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan goncangan budaya yang pada akhirnya akan memunculkan pola-pola perilaku baru meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.

4. Teori Siklus

Teori ini mempunyai perspektif bahwa perubahan sosial tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun bahkan orang-orang yang ahli sekalipun. Dalam setiap masyarakat terdapat siklus yang harus diikuti.

Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban tidak dapat dielakkan dan tidak selamanya perubahan sosial membawa kebaikan.

Menurut Oswald Spenger, setiap masyarakat berkembang melalui empat tahap perkembangan pertumbuhan manusia yaitu masa kanakkanak, remaja, dewasa, dan tua. Masyarakat Barat telah mencapai kejayaan pada masa dewasa yaitu selama zaman pencerahan abad ke-18. Sejak saat

itu tidak terelakkan lagi peradaban Barat memang mulai mengalami kemunduran menuju ke masa tua. Tidak ada yang dapat menghentikan proses ini.

Arnold Toynbee, menyebutkan bahwa kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban bisa dijelaskan melalui konsep-konsep kemasyarakatan yang saling berhubungan satu sama lain yaitu tantangan dan tanggapan. Tiap-tiap masyarakat menghadapai tantangan alam dan sosial dari lingkungannya. Jika suatu masyarakat mampu merespon dan menyesuaikan diri dengan tantangan tersebut maka akan bertahan dan berkembang.

Sebaliknya jika masyarakat tidak mampu maka akan mengalami kemunduran dan akhirnya punah. Apabila masyarakat telah mampu mengatasi satu tantangan maka akan muncul tantangan baru dan itu berulang sebagai akibat hasil interaksi antarmanusia dengan kelompoknya.

Sekian pembahasan mengenai teori-teori perubahan sosial budaya menurut para ahli. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Terimakasih.