4 Teori Masuknya Islam Ke Indonesia

Teori Masuknya Islam Ke Indonesia

Teori Masuknya Islam Ke Indonesia – Islam merupakan agama yang selalu mengajarkan perdamaian. Tidak ada paksaan bagi setiap manusia untuk memeluk agama Islam. Begitu pula yang terjadi saat islam masuk di Indonesia.

Sikap masyarakat Indonesia yang memiliki corak kehidupan yang ramah danterbuka terhadap bangsa asing juga menjadi penyebab Islam dengan mudah masuk dan berkembang di Indonesia.

Wilayah perairan Indonesia meupakan tempat yang strategis telah dilalui rute pelayaran dan perdagangan antara pedagang dari Timur Tengah, India, Malaka dan Cina. Sebagian besar pedagang tersebutmemeluk agama Islam. Pedagang Islam inilah yang kemudian berperan penting dalam proses masuknya Islam di Indonesia. Selain dari pedagang, penyebaran Islam di Indonesia juga dilakukan oleh ulama dari Arab, Persia, dan India. Para ulama ikut dalam pelayaran yang dilakukan pedagang. Mereka kemudian menyebarkan agama Islam di tempat-tempat yang disinggahinya.

Baca Juga : Sejarah Masuknya Islam di Indonesia Lengkap

4 Teori Masuknya Islam Ke Indonesia

Terdapat beberapa teori masuknya Islam ke Indonesia. Berikut ini adalah teori-teori masuknya Islam ke Indonesia menurut kajian para ahli.

1.Teori Gujarat

Gujarat merupakan sebauh wilayah yang kini berada di negara India. Daerah Gujarat di India tersebut diduga menjadi daerah asal Islam di Indonesia.

Dalam teori Gujarat menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 masehi dibawa oleh pedagang dari Gujarat. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh J. Pijnapel. Teori ini kemudian mendapat dukungan dari beberapa tokoh diantaranya Snouck Hurgronje, W.F. Sutterheim, dan Sucipto Wirjosuparto.

Menurut J. Pijnapel, orang-orang Islam bermazhab Syafi’i telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak abad ke-7 masehi. Menurutnya penyebaran Islam di Indonesia tidak langsung dilakukan oleh para pedagang Arab, akan tetapi oleh pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam, kemudian berdagang di Indonesia.

Snouck Hugronje menjelaskan bahawa Islam masuk di Indonesia dari kota-kota di anak Benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar karena Islam lebih dahulu berkembang di kota-kota tersebut. Dalam bukunya berjudul L’arabie et Les Indes Neerlandaises, Snouck Hurgronje menjelaskan bahwa teori Gujarat didasarkan pada peranan orang-orang Gujarat yang telah membuka hubungan dagagang dengan masyarakat Indonesia sebelum pedagang Arab.

Menurut Sucipto Wiryosuparto, teori Gujarat didasarkan atas bukti berikut.

  • Corak batu nisan makam Sultan Malik as-Saleh dan Maulana Malik Ibrahim mempunyai kemiripan dengan corak nisan yang ada di Gujarat.
  • Hubungan dagang antara penduduk Indonesia dan India telah lama terjalin, melalui jalur perdagangan Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa.

Dalam perkembangan selanjutnya, teori Gujarat dibantah oleh banyak ahli dengan bukti- bukti yang lebih akurat seperti berita dari Arab, Persia, Turki, dan Indonesia memperkuat keterangan bahwa Islam masuk di Indonesia, bukan dibawa pedagang Gujarat. Sejarawan Azyumardi Azra menjelaskan bahwa Gujarat dan kota-kota di anak Benua India hanya tempat persinggahan bagi pedagang Arab sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara dan Asia Timur. Selain itu, pada abad ke 12-13 masehi wialayah Gujarat masih dikuasai pengaruh Hindu yang kuat.

2. Teori Persia

Persia merupakan sebuah wilayah yang sekarang menjadi negara Iran. Menurut teori Persia, Islam di Indonesia berasal dari Persia. Adapun pencetus dari teori ini yaitu Hoesein Djajadiningrat dan Oemar Husein.

Bukti-bukti teori menurut Hoesein Djajadiningrat Persia diantaranya sebagai berikut.

  • Kemiripan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain tradisi perayaan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas wafatnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad dan tradisi Tabot yang berkembang di Bengkulu.
  • Ajaran sufi Widhatul Wujud Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah yang mempunyai kesamaan dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia.
  • Kesamaan seni kaligrafi yang terpahat di nisan makam Islam di Indonesia dengan makam di Persia.
  • Penggunaan gelar syah pada raja-raja Islam di Indonesia.

Bukti-bukti yang disampaikan oleh Hoesein Djajadiningrat didukung oleh Oemar Amir Husein dengan mengemukakan bukti tambahan sebagai berikut.

  • Di Persia terdapat suku bernama Leran. Kemungkinan besar suku Leran tersebut berasal dari Jawa. Hal ini didukung dengan adanya kampung bernama Leran yang terletak di Jawa Timur.
  • Di Persia terpada suku Jawi. Suku Jawi diduga mengajarkan huruf Arab di Jawa. Huruf Arab itu disebut dengan huruf Arab Pegon yang sering digunakan dalam naskah kuno masa kerajan Islam.

3. Teori Mekah

Teori Mekah muncul sebagai sanggahan atas teori Gujarat dan Persia. Dalam teori Mekah menyatakan bahawa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi dan berasal langsung dari Mekah dan Madinah. Menurut teori ini Islam masuk di Indonesia pada awal abad Hijriah, bahkan ketika Nabi Muhammad masih hidup. Pendukung teori Mekah diantaranya H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Ahmaad Mansyur Suryanegara, A.H. Jons, dan T.W. Arnold.

Adapun bukti teori Mekah menurut Hamka diantaranya.

  • Catatan Ibnu Batutah yang menjelaskan bahwa Raja Samudera Pasai menganut mazhab Syafi’i. Mazhab Syafi’i merupakan mazhab terbesar di Mesir dan Arab. Jika Islam yang berkembang di Indonesia berasal dari Persia, tentu sebagian besar penduduk Indonesia akan menganut aliran Syiah. Dan juga jika berasal dari Gujarat India maka mazhab penduduk Indonesia seharusnya bermazhab Hanafi seperi yang dianut masyarakat muslim India.
  • Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al-Malik yang biasa digunakan oleh raja-raja yang ada di Mesir.

Pandangan selanjutnya tentang teori masuknya Islam ke Indonesia yaitu dengan teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Jhons. Dalam teori Mekah, ia menjelaskan bahwa islamisasi di Indonesia dilakukan oleh para musafir. Kaum sufi Arab biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendirikan perguruan tarekat. Pendapat ini didasarkan pada penggunaan mazhab Syafi’i oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Mazhab Syafi’i merupakan mazhab terbesar yang dianut penduduk muslim Arab.

Adapun T.W. Arnold dalam bukunya The Preacing of Islam menjelaskan bahwa pada abad ke-7 Masehi di pesisir pantai barat Sumatra terdapat komunitas masyarakat muslim yang terdiri atas pedagang Arab. Komunitas ini terbentuk sebagai akibat dari pedagang Arab melakukan pernikahan dengan wanita lokal. Penyebaran Islam ini dibuktikan dengan adanya penemuan batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, Jawa timur.

Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan pendapat bahwa ketika Nabi Muhammad masih hidup telah terjalin hubungan perdagangan antara pedagang Arab dengan pedagang Indonesia. Islam sudah memulai ekspedisi perdagangan pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Bukti kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia dapat dilihat dari catatan India, Cina, dan Arab.

4. Teori Cina

Dalam Teori Cina menyatakan bahwa proses kedatangan Islam di Indonesia berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha orang Cina telah berbaur dengan penduduk Indonesia, terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad Vll Masehi saat Islam sedang berkembang.

Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya Arus CinaIslam-Jawa menyatakan bahwa pada abad Vll Masehi, di daerah Kanton, Zhang-Zhao, Quanzhou, dan pesisir Cina bagian selatan telah terdapat sejumlah permukiman Islam.

Teori Cina Ini jika dilihat dari beberapa sumber, baik luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat) dapat diterima. Bahkan, menurut sejumlah sumber lokal ditulis bahwa raja Islam pertama di Demak, yaitu Raden Patah merupakan ketUrunan Cina. Kenyataan Ini dikarenakan ibu Raden Patah berasal dari Campa, Cina bagian selatan.

Berdasarkan Sajarah Banten dan” Hikayat Hasanuddin nama dan gelar rajaraja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina seperti Cek Ko Po, Jin Bun, Cek Ban Cun, Cun Geh, dan Cu-cu. Nama-nama seperti Munggul dan Moechoel ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara berbatasan dengan Rusia.

Baca Juga : Jalur Masuknya Islam Ke Indonesia

"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia"