A. Pengertian Sosialisasi

Secara umum, sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang dilakukan oleh seseorang (individu) untuk berbuat atau bertingkah laku berdasarkan patokan yang terdapat dan diakui dalam masyarakat.

Jika ditinjau dalam arti sempit, proses bersosialisasi diartikan sebagai proses pembelajaran seseorang mengenal lingkungan sekitarnya baik itu lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

Dengan demikian, sosialisasi adalah suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, yang dimulai dari lingkungan keluarganya dan kemudian meluas pada masyarakat luas, lambat laun dengan keberhasilan penerimaan atau penyesuaian tersebut, maka individu akan merasa menjadi bagian dari keluarga atau masyarakat.

Pengertian Sosialisasi Menurut Para Ahli

  1. Peter L. Berger, Sosialisasi yaitu suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
  2. Robert M.Z. Lawang, Sosialisasi yaitu proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.
  3. Prof. Dr. Nasution, S.H., Sosialisasi ialah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial.
  4. Sukandar Wiraatmaja, M.A., Sosialisasi ialah suatu proses yang dimulai sejak seseorang itu dilahirkan untuk dapat mengetahui dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan, dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat.
  5. Drs. Suprapto, Sosialisasi ialah suatu proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang dijalankan.
  6. Hasan Shadily, Sosialisasi ialah proses di mana seseorang mulai menerima dan menyesuaikan diri terhadap adat istiadat suatu golongan. Di mana lambat laun ia akan merasa sebagian di golongan itu.
  7. Jack Levin dan James L. Spates, Sosialisasi ialah proses di mana kebudayaan diteruskan dan diinternalisasikan oleh kepribadian individu.
  8. John C. Macionis, Sosialisasi ialah pengalaman sosial seumur hidup, di mana individu dapat mengembangkan potensinya dan mempelajari pola-pola kebudayaan mereka.
  9. Edwar A. Ross, Socialitation ialah pertumbuhan perasaan ”kita”. Di mana perasaan ini akan menimbulkan tindakan segolongan.
  10. Laurence, Socialitation ialah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu kebudayaan dan berusaha menguasai kebudayaan sebagai aspek berikutnya.
  11. Charlotte Buhler, Socialitation ialah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berpikir kelompoknya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
  12. Bruce J. Cohen, Socialitation ialah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok.

B. Jenis-Jenis Sosialisasi

1. Sosialisasi Primer

Sosialisasi primer ialah sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, di mana ia menjadi anggota masyarakat. Biasanya di usia 1 – 5 tahun, secara bertahap anak mulai mampu untuk membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.

Peran orang-orang terdekat sangatlah penting guna membentuk karakter kepribadian sesuai yang diharapkan. Proses ini merupakan bagian penting karena apapun yang diserap anak di masa ini menjadi ciri mendasar kepribadian anak setelah dewasa. Oleh karena itu, begitu penting untuk memberikan pola pengasuhan yang baik dan jauh dari suasana kekerasan baik fisik maupun psikis agar kelak karakter anak menjadi baik.

2. Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder ialah proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya. Salah satu bentuk sosialisasi sekunder adalah resosialisasi dan desosialisasi.

Dalam proses resosialisasi, seseorang diberikan identitas diri baru dan desosialisasi yaitu ketika seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama. Hal ini biasa terjadi dalam sebuah lingkungan tempat kerja. Dalam lingkungan pekerjaan inilah individu dikenalkan dan disosialisasikan dengan dunia (objeknya) yang baru sehingga mereka dapat berperan dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas.

3. Sosialisasi Represif

Sosialisasi represif adalah sosialisasi yang menekankan pada pengawasan yang ketat dan pemberian hukuman kepada setiap orang yang melanggar peraturan atau norma yang berlaku. Contohnya saja di lingkungan pendidikan militer seperti kepolisian.

4. Sosialisasi Partisipasi

Sosialisasi adalah sosialisasi yang menekankan pada keikutsertaan seseorang dalam proses sosial. Anak-anak yang sudah menaati nilai dan norma kemudian diberi pujian, sedangkan yang belum mereka terus dibimbing, diarahkan dan diluruskan jika terjadi penyimpangan.

C. Tujuan Sosialisasi

  1. Mengetahui nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku pada suatu masyarakat sebagai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan seseorang kelak di tengah-tengah masyarakat di mana individu tersebut sebagai anggota masyarakat.
  2. Mengetahui lingkungan sosial budaya baik lingkungan sosial tempat individu bertempat tinggal termasuk juga di lingkungan sosial yang baru supaya terbiasa dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ada di masyarakat.
  3. Membantu melakukan pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
  4. Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien serta mengembangkan kemampuannya seperti membaca, menulis, berekreasi, dan lain-lain.

E. Tahap-Tahap Sosialisasi

1. Tahap Play Stage (Tahap Bermain)

Pada tahap ini ditandai dengan peran-peran yang dilakukan oleh anak kecil yang menirukan peran-peran yang dimainkan orang-orang yang berada di sekitarnya seperti orang tuanya atau orang dewasa lainnya yang sering mengadakan interaksi dengannya.

Contohnya seorang anak yang berpura-pura menjadi dokter, pilot, polisi, tanpa tahu mengapa dokter harus menyuntik, pilot berada di pesawat ataupun mengapa polisi itu harus membawa pistol.

2. Tahap Game Stage (Tahap Permainan)

Pada tahap ini, masa peniruan sudah mulai berkurang dan tergantikan dengan peran yang secara langsung dimainkan oleh anak dengan penuh kesadaran.

Selain itu, jumlah orang yang berinteraksi dengannya semakin banyak dan juga kompleks serta mulai memahami peran yang harus dijalankan oleh orang lain tersebut. Seorang anak kecil mulai menyadari adanya norma-norma yang harus dipahami baik yang berlaku di dalam keluarganya
ataupun di luar keluarganya.

3. Tahap Generalized Stage (Tahap Penerimaan Norma Kolektif)

Pada tahap ini, seorang anak telah beranjak dewasa dan mampu untuk mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat. Individu tersebut telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam sebuah masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa berinteraksi. Sebagai anak, ia telah mampu memahami peranan-peranan yang dijalankan orang tua, sebagai siswa, ia telah mampu memahami peranan yang dijalankan seorang guru, dan sebagainya.

D. Indikator Keberhasilan Sosialisasi

  1. Meningkatnya status yang seringkali diikuti dengan meningkatnya kepercayaan dan meningkatnya peranan sosial pada lingkungan sosial yang baru.
  2. Terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap aktivitas yang ditandai dengan keakraban dan persaudaraan di antara individu tersebut dengan masyarakat yang lain.
  3. Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya.