Halo sobat Synaoo !!! Pada postingan kali ini kita akan belajar mengenai proses pembentukan minyak bumi dan gas alam.

Berikut ini adalah pembahasan selengkapnya tentang proses pembentukan minyak bumi dan gas alam.

Pembentukan Minyak Bumi

Minyak bumi merupakan hasil akhir dari penguraian bahan-bahan organik yang berasal dari jaringan tumbuhan dan hewan, baik yang terdapat di darat maupun di laut.

Sisa-sisa tumbuhan dan hewan tersebut tertimbun oleh endapan pasir, lumpur dan zat-zat lain selama jutaan tahun yang mendapatkan tekanan serta panas bumi secara alami. Bersamaan dengan terjadinya proses tersebut, bakteri pengurai merombak senyawa-senyawa kompleks dalam jasad organik menjadi senyawa-senyawa hidrokarbon.

Beberapa bagian dari jasad renik tersebut mengandung minyak dan lilin. Minyak dan lilin tersebut dapat bertahan lama di dalam perut bumi.

Bagian-bagian tersebut akan membentuk bintik-bintik, warnanya pun berubah menjadi cokelat tua. Bintik-bintik itu kemudian akan tersimpan di dalam lumpur dan mengeras karena terkena tekanan bumi. Lumpur tersebut akan berubah menjadi batuan dan terkubur semakin dalam di dalam perut bumi.

Tekanan dan panas bumi secara alami akan mengenai batuan mulai mengeluarkan minyak kental yang pekat. Semakin dalam sebuah batuan terkubur di perut bumi, maka minyak yang dihasilkan akan semakin banyak. Pada saat batuan lumpur mendidih, minyak yang dikeluarkan berupa minyak cair yang bersifat encer dan saat suhunya sangat tinggi akan menghasilkan gas alam. Gas alam ini sebagian besar berupa metana.

Sementara itu, saat lempeng kulit bumi bergerak, minyak yang terbentuk di berbagai tempat akan bergerak. Minyak bumi terbentuk akan terkumpul dalam pori-pori batu pasir atau batu kapur. Oleh karena adanya gaya kapiler dan tekanan di perut bumi lebih besar dibandingkan dengan tekanan di permukaan bumi maka minyak bumi akan bergerak ke atas.

Apabila gerakan ke atas minyak bumi, terhalang oleh batuan yang kedap cairan atau batuan tidak berpori, minyak akan terperangkap dalam batuan. Oleh karena itu, minyak bumi bisa disebut juga petroleum. Petroleum berasal dari bahasa laitn, yaitu petrus yang artinya batu dan oleum artinya minyak.

Daerah di dalam lapisan tanah yang kedap air tempat terkumpulnya minyak bumi disebut cekungan atau antiklinal. Lapisan paling bawah dari cekungan ini berupa air tawar atau air asin, sedangkan lapisan di atasnya berupa minyak bumi yang bercampur gas alam.

Gas alam berada di lapisan atas minyak bumi di suatu cekungan cukup banyak dan secara komersial menguntungkan, minyak bumi tersebut diambil dengan cara melakukan pengeboran.

Minyak bumi berupa minyak mentah diambil dari sumur minyak yang ada di pertambangan-pertambangan minyak. Lokasi sumur-sumur minyak diperoleh setelah melalui proses studi geologi analisis sedimen karakter dan juga struktur sumber.

Pembentukan Gas Alam

Teori pembentukan gas alam sama dengan teori pembentukan minyak bumi. Proses pembentukan gas alam terjadi bersamaan dengan pembentukan minyak bumi. Gas alam merupakan campuran alkana dengan berat molekul sedang.

Komposisi gas alam tergantung pada sumbernya. Pada umumnya, gas alam terdiri dari hidrokarbon golongan metana 70-98%, etana 1-10%, propana lebih kurang 5%, butana lebih kurang 2%, petana kurang lebih 1%, dan heksana kurang lebih 0,5%. Sementara itu, kandungan nonhidrokarbon dalam gas alam adalah nitrogen kurang lebih 15%, karbon diaoksida kurang lebih 1%, helium 0-5%, dan terkadang ditemukan hidrogen sulfida.

Gas alam sering disebut dengan gas bumi atau gas rawa, yaitu bahan bakar fosil berbentuk gas. Gas alam dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi, dan tambang batu bara.

Gas alam digunakan sebagai bahan baku pabrik pupuk, petrokimia, metanol, plastik, dan bahan bakar PLTG. Gas alam paling besar digunakan sebagai komoditi ekspor dalam bentuk LNG (Liguefied Natural Gas). LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan diletakkan dalam tangki yang juga dirancang khusus.

Contoh Proses Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam

  • Ganggang hidup di danau tawar (juga di laut). Mengumpulkan energi dari matahari dengan fotosintesis.
  • Setelah ganggang-ganggang ini mati, maka akan terendapkan di dasar cekungan sedimen dan membentuk batuan induk (source rock). Batuan induk adalah batuan yang mengandung karbon (High Total Organic Carbon). Batuan ini bisa batuan hasil pengendapan di danau, di delta, maupun di dasar laut. Proses pembentukan karbon dari ganggang menjadi batuan induk ini sangat spesifik. Itulah sebabnya tidak semua cekungan sedimen akan mengandung minyak atau gas bumi. Jika karbon ini teroksidasi maka akan terurai dan bahkan menjadi rantai karbon yang tidak mungkin dimasak.
  • Batuan induk akan terkubur di bawah batuan-batuan lainnya yang berlangsung selama jutaan tahun. Proses pengendapan ini berlangsung terus menerus. Salah satu batuan yang menimbun batuan induk adalah batuan reservoir atau batuan sarang. Batuan sarang adalah batu pasir, batu gamping, atau batuan vulkanik yang tertimbun dan terdapat ruang berpori-pori di dalamnya. Jika daerah ini terus tenggelam dan terus ditumpuki oleh batuan-batuan lain di atasnya, maka batuan yang mengandung karbon ini akan terpanaskan. Semakin kedalam atau masuk amblas ke bumi, maka suhunya akan bertambah. Minyak terbentuk pada suhu antara 50 sampai 180 derajat Celsius. Tetapi puncak atau kematangan terbagus akan tercapai bila suhunya mencapat 100 derajat Celsius. Ketika suhu terus bertambah karena cekungan itu semakin turun dalam yang juga diikuti penambahan batuan penimbun, maka suhu tinggi ini akan memasak karbon yang ada menjadi gas.
  • Karbon terkena panas dan bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrokarbon. Minyak yang dihasilkan oleh batuan induk yang telah matang ini berupa minyak mentah. Walaupun berupa cairan, ciri fisik minyak bumi mentah berbeda dengan air. Salah satunya yang terpenting adalah berat jenis dan kekentalan. Kekentalan minyak bumi mentah lebih tinggi dari air, namun berat jenis minyak bumi mentah lebih kecil dari air. Minyak bumi yang memiliki berat jenis lebih rendah dari air cenderung akan pergi ke atas. Ketika minyak tertahan oleh sebuah bentuk batuan yang menyerupai mangkok terbalik, maka minyak ini akan tertangkap dan siap ditambang.

Apakah minyak bumi dan gas alam bisa habis?

Minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui sehingga dapat habis. Proses pembentukan minyak bumi dan gas alam juga membutuhkan waktu yang tidak cepat. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan upaya penghematan dalam penggunaannya.

Selain itu, diperlukan upaya pengadaan sumber energi alternatif pengganti minyak bumi dan gas alam, misalnya batu bara, energi surya, energi panas bumi, energi air, energi angin, dan energi gelombang.

Saat ini, sudah banyak ditemukan bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi yang ramah lingkungan. Bahan bakar alternatif tersebut diantaranya biodiesel atau biosolar yang diadapat dari proses fermentasi karbohidrat dan distilasi biji jarak. Selain itu, mulai dikembangkan bahan bakar alternatif untuk memasak berupa briket arang tempurung kelapa yang memiliki kalor pembakaran lebih tinggi daripada bahan bakar minyak dan tidak menghasilkan jelaga.

Baca Juga : Komponen dan Komposisi Minyak Bumi dan Gas Alam

Sekian pembahasan mengenai proses pembentukan minyak bumi dan gas alam dari Synaoo.com. Semoga pembahasan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam yang diberikan dapat bermanfaat.

Terimakasih.