Jika dasar pendidikan Islam diidentikkan dengan dasar Islam, secara sederhana dapat diformulasikan bahwa karena komitmen dasar Islam adalah pada manusia, alam dan kehidupan. Maka dengan memakai dasar Islam, pendidikan Islam sebenarnya merupakan pengembangan pikiran, penataan perilaku, pengerahuan emosional, peran dan hubungan manusia dengan dunianya, serta bagaimana membuat manusia mampu memanfaatkan kekayaan dunia sehingga dapat meraih kehidupan yang lebih baik.

Dengan meletakkan dasar pendidikan Islam dalam proses pendidikan, diharapkan nilai-nilai dasar agama dapat memberikan ruang lingkup perkembangannya proses pendidikan Islam dalam rangka mencapai aspek-aspek tujuan hidup hakiki: melalui pengembangan aspek-aspek pikiran, perilaku, emosi, taza cara yang berhubungan dengan alam dan cara pemanfaatannya.

Fazlur Rahman misalnya, kerika berusaha memodernisasi pendidikan Islam supaya memproduksi intelekrual Islam yang kreatif di semua bidang usaha initelektual dan tetap konsep kepada Islam, menyodorkan keterangan sebuah ayat, bahwa al-Qur’an telah memberi nilai yang sangat tinggi kepada ilmu, dan Rasulullah sendiri memerintahkan kepada umatnya untuk menuncuk ilmu walau di negeri Cina. Kemudian menurut analisisnya pula, ia katakan, al-Ouran berpendapat bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang akan semakin bertambah pula iman dan komitmen terhadap Islam.

Dengan menggunakan formula berbeda, masalah pendidikan Islam sebagaimana pendapat tokoh muslim seperti Ibnu Taimiyah, haruslah didasarkan pada ilmu yang berdaya guna, dan ini merupakan dasar untuk bisa memperoleh kesejahteraan hidup yang lurus, konsisten dan dinamis. Tanpa itu, kehidupan akan berlangsung tanpa arah dan berjalan pada titik kepentingan sesaat. Proses pendidikan seharusnya lebih diorientasikan pada pemberdayaan ilmu dalam meraih kehidupan yang bermakna, dan pemberdayaan pada cara-cara yang kreatif, demokratis tanpa ada paksaan.

Curma yang menjadi problematika hari ini adalah belum terbiasanya dunia pendidikan kita mengarah pada dunia pembebasan, apalagi bila kita memandang lebih jauh Islam telah mendengungkan konsep pembebasan sebagaimana menurut pemikiran Ali Abd al-Wahid dimana ada empat macam kebebasan yang mendasar dalam Islam, yaitu pertama, al-hurriyah al-madaniyah (kebebasan berbudaya), di sini manusia diberikan kebebasan untuk melakukan berbagai inceraksi. Kedua, al-burriyah ad-diniyah (kebebasan beragama), artinya jelas kebebasan dalam menentukan agama yang diyakininya, menjunjung tinggi toleransi. Ketiga, al-hurriyah at-tafkir wa at-tabir (kebebasan berfikir dan berpendapat) di sini, semua manusia memmpunyai hak untuk memngemukakakn pendapat. Keempat, al-burriyah as-siyasiyah (kebebasan berpolitik), di sini manusia sebagai kedaulatan tertinggi.

Arkoun, sendiri mengatakan kebebasan manusia adalah salah satu data khas Islam, karena Islam sebagai agama pertama yang menganjurkan kebebasan, maka semestinya semangan pembebasan lebih menggiatkan kinerja pendidikan Islam, sehingga mampu mengambil prakarsa yang mengarah kepada kondisi-kondisi pembebasan meskipun terap menjaga ketepadian dengan norma-norma agama.

Menurut Asghar Ali Enginner, seluruh isi kandungan al-Qur’an berintikan semaangat pembebasan manusia dari eksploitasi dan penindasan. Teologi pembabasan dalam Islam mendapatkan kekuatannya dari ajaran-ajaran al-Qur’an. Orang-orang yang tidak berjuang untuk membehaskan orang-orang yang tertindas dan lemah tidak mengaku benar-benar beriman dengan hanya beriman secara verbal.

Pustaka : Shulhan, Muwahid, dan Soim. 2013. Strategi Dasar Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Yogyakarta : Teras