Prinsip Manajemen Pendidikan Islam – Dalam manajemen pendidilan Islam terdapat beberapa prinsip-prinsip manajemen. Prinsip-prinsip inilah yang kemudian membedakan manajemen pendidikan pada umumnya dengan manajemen pendidikan Islam.

Mengenai prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam sendiri banyak para pakar pendidikan Islam yang berbeda pendapat, diantaranya berpendapat bahwa prinsip manajernen pendidikan Islam dibagi menajdi delapan prinsip di antaranya: ikhlas, kejujuran, amanah, adil, tanggung jawab, dinamis, praktis, dan leksibel.

Adapun pendapat Hasan Langgulung prinsip manajemen pendidikan Islam itu ada tujuh macam prinsip, diantaranya: iman dan akhlag, Keadilan dan persamaan, musyawarah, pembagian kerja dan tugas, berpegang pada fungsi manajemen, pergaulan dan keikhlasan.

1. Adil

Prinsip yang mula-mula dilaksanakan oleh administatur muslim dalam manajemen lembaga pendidikan adalah prinsip keadilan. Administatur muslim etika melaksanakan prinsip Islam ini dan juga prinsip-prinsip Islam yang lain alam administrasinya dan mencerminkannya dengan dirinya sendiri sehingga menjadi salah satu cara utamanya, tidaklah ia kerjakan itu karena ingin berhasil dalan pekerjaannya dan hubungan-hubungannya dengan orang-orang lain, tetapi sebab dorongan ‘agidah agamanya dan hati nuraninya. dan karena menuntut keberedaan cuhannya.

Menurut Abuddin Nata, dalam literatur Islam, keadilan dapat diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk menunjukkan pada persamaan atau bersikap tengah-tengah aras dua perkara. Keadilan dapat terjadi berdasarkan keputusan akal yang dikonsulrasikan dengan agama. Adil sering diartikan sebagai sikap moderat, obyektif terhadap orang lain dalam memberikan hukuman, sering diartikan pula dengan persamaan dan keseimbangan dalam memberikan hak orang lain., tanpa ada yang dilebihkan acau dikurangi. Allah Swt berfirman:

وَالسَّماءَ رَفَعَها وَوَضَعَ الْمِيزانَ () أَلاَّ تَطْغَوْا فِي الْمِيزانِ () وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزانَ

“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS: Al-Rahman Ayat 7-9)

Dalam Al Qur’an adil dan anak katabya diulang sekitar 30 kali. Al-Qur’an mengungkapkannya sebagai salah satu dari asma’ al-Husna Allah Swt dan perintah kepada Rasulullah SAW untuk berbuat adil dalam menyikapi semua umat yang muslim maupun yang kafir. Begitu juga perintah untuk berbuat adil ditujukan kepada kaum mukminin dalam segala urusan.

Prinsip atau kaidah manajemen yang ada relevansinya dengan ayat-ayat Al-Our’an dan Hadis antara lain sebagai berikuc: prinsip amar maruf nahi munkar, prinsip menegakkan kebenaran, prinsip menegakkan keadilan, prinsip menyampaikan amanah kepada yang ahli.

Dengan prinsip-prinsip di atas manajemen pendidikan Islam mampu memberikan kontribusi besar. Fungsi-fungsi manajemen harus bisa berjalan beriringan dengan prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam. Sistem manajemen tersebut mampu memberikan arahan yang positif bagi perkembangan dunia manajemen. Arahan positif tersebut dimulai dari taranan konsep, teoritis, ber- akhir pada tatanan praktis. Pada kenyataan masih banyak lembaga-lembaga pendidikan Islam yang masih menggunakan konsep manajemen pendidikan pada umumnya.

Menurut Sagala bahwa manajemen yang berkenaan dengan pemberdayaan sekolah merupakan alternatif yang paling tepat untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan memiliki keunggulan tinggi.” Kualicas manajemen sekolah tentu mengacu pada kemampuannya memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Penyeleggaraan kegiatan sekolah yang memenuhi persyaratan kualitas dan mampu menjamin kualitas, tentu manajemen sekolah tersebut akan menjaga konsistensi antara visi, misi, tujuan, dan target yang berpedoman rencana strategis sekolah.

2. Ikhlas

Yunasril Ali menyatakan bahwa ikhlas artinya bersih, murni, belum hercampur dengan sesuatu.” Yang dimaksud dengan ikhlas di sini ialah berniat di dalam hati yang semata-mata kareria Allah dan hanya untuk mengharap dan keridhaan-Nya belaka suatu amalan dilaksanakan. Al-Junaidi mengatakan: “Ikhlas ialah mengerjakan sesuatu karena Allah Swt. semata-mata.

Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Ada yang berpendapar, ikhlas artinya menjaga ama! dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Menurut pengarang Manasil al-Sairin berkata, “Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran”.

Al-Junaidi menyatakan bahwa, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak dikerahui kecuali oleh malaikat, sehingga dia menulisnya, tidak dikerahui bahwa nafsu sehingga dia mencondongkan.”

قُلْ أَمَرَ رَبِّى بِٱلْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا۟ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَٱدْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Ayat di atas mengajarkan tentang keikhlasan. Segala aktifitas yang dilakukan manusia hendaknya dijadikan sebagaimana ibadah.

kepada AIlah Swt. pengabdian yang bernilai tinggi adalah yang disertai dengan keikhlasan hati hanya karena Allah Swt

Menurut pengarang Manazilus SA’irin Al-Jauziyah ikhlas ada tiga derajat:

1) Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dan tidak puas terhadap amal.
2) Malu terhadap amal sambil terap berusaha, berusaha sekuat tenaga membenahi amal dengan terap menjaga kesaksian, memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah Swr.
3) Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa.

Keikhlasan di dalam menunaikan segala pekerjaan yang diperintahkan Tuhan akan menambah kuat dan membaja niatnya. Niat yang telah bulat akan menjadi satu tekad. Kesatuan tekad ini akan menjelma menjadi suatu kekuatan batin yang luar biasa. Dengan kekuacan inilah bangsa Indonesia dapat mencapai kemerdekaannya. Kekuatan luar biasa ini telah menganrarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemenangannya atas pemerintah kolonial.

Sebagaimana Allah menginginkan Muslim untuk menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan dan berdasarkan kompetensi teknis. Jauh dari tindak kezaliman, eksploitasi dan komersialisasi jabatan, praktik suap, berkhianat.

3. Amanah/ Tanggung Jawab

Amanah dalam perspektif agama Islam memiliki makna dan kandungan yang luas, di mana seluruh makna dan kandungan tersebut hernuara pada satu pengertian yaitu setiap orang merasakan bahwa Allah swt senantiasa menyertainya dalam setiap urusan yang dibebani kepadanya, dan setiap orang memahami dengan penuh keyakinan bahwa kelak ia akan dimintakan pertanggung jawaban atas urusan tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw yang artinya:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. (HR Imam Bukhori)

Amanah secara etimologis (pendekatan kebahasaan/lughawi) dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah berarti pesan, perintah, keterangan arau wejangan. Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, di antaranya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.”

Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuaru yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang Dalam prosesnya, sistem manajemen dalam pendidikan Islam mpunyai prinsip amanah atau tanggung jawab sebab tanpa amanat para pengelola akan bekerja dengan ragu-rigu dan serba salah Akan tetapi, jika mereka diberi kepercayaan penuh, mereka akan mengerahkan seluruh potensi yang ada pada diri mereka demi kemajuan pendidikan Islam.

4. Jujur

Salah satu dari sekian sifat dan moral utama seorang manusia adalah kejujuran. Karena kejujuran merupakan dasar fundamental dalam pembinaan umat dan kebahagiaan masyarakat. Karena kemujuran menyangkut segala urusan kehidupan dan kepentingan memang banyak. Kepada manusia Allah SWT memerintahkan agar mempunyai perilaku dan sifat ini. Rasulullah SAW adalah merupakan contoh terbaik dan seorang yang memiliki pribadi ucama dalam hal kejujuran.

Menurut Ramayulis menyatakan bahwa jujur dalam arri sempit adalah sesusinya ucapan lisan dengan kenyataan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. ”Maka orang yang jujur bersama Allah dan bersama manusia adalah yang sesuai lahir dan batinnya. Karena itulah,orang munafik disebutkan sebagai kebalikan orang yang jujur.

5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Al-Ma’ruf merupakan ismun jami’ (kata benda yang mencakup) tentang segala sesuatu yang dicintai Allah Swt baik perkataan, perbuatan yang lahir maupun batin yang mencakup niat,

ibadah, struktur, hukum dan akhlag. Dan disebut ma’ruf karena fitrah yang masih lurus dan akal yang sehat mengenalnya dan menjadi saksi kebaikannya. Dan makna amar ma’riif adalah berdakwah untuk melaksanakannya dan mendatanginya dengan disemangati.

Adapun nahi munkar (mencegah perbuatan keji), harus ditolak, dijauhi, bahkan harus diberantas, seperti korupsi, pemborosan (tabdair).

6. Iman dan Akhla1

Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah iman adalah “Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan’”. Iman mengandung arti ketentraman dan kedamaian galbu. Yang dimaksud dengan keimanan seseorang terhadap sesuatu, adalah bahwa dalam hari orang tersebut telah tertanam kepercayaan dan kenyakinan tentang sesuatu, dan sejak saat icu tidak khawarir lagi terhadap menyelusupnya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaannya. Arti iman dalam al-Our’an maksudnya membenarkan dengan penuh Keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hambaNya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Dan bahwasanya al-Qur’an adalah kalam Allah yang difirmankan dengan sebenarnya.

Arti Iman dalam Hadis maksudnya iman yang merupakan pembenaran batin. Rasullallah menyeburkan hal-hal lain sebagai iman, seperti akhlag yang baik, bermurah hari, sabar, cinta Rasul, cinta sahabat, rasa malu dan sebagainya.

Sedangkan pengertian akhlaq menurut Islam adalah perangai yang ada dalam diri manusia yang mengakar, yang dilakukannya
secara spontan dan terus menerus. Agama Islam menjadi sumber akhlak. Orang memiliki akhlak memiliki landasan kuat dalam bertindak. Ada dua pembagian akhlag, akhlak mahmudah ukhlag terpuji) dan akhlak mazdmumah (akhlak tercela). Bila telah berdekatan dengan nilai-nilai Islam, yang akan terbentuk akhlak.

Ciri-ciri seseorang yang memiliki akhlaq Islami, di antaranya yaitu.

1) Tidak menghalalkan cara untuk mendapatkan sesuatu,
2) Akhlaq mencakup semua aspek kehidupan
3) Berhubungan dengan nilai-nilai keimanannyas
4) Berhubungan dengan hari kiarmat atau tafakkur alam
5) Memandang segala sesuatu dengan fitrah yang benar.

7. Hubungan atau Pergaulan Baik

Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan persamaan. Perbedaan jika terjadi terletak pada bencuk, penerapan, atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral, yang disebut ma’uf dalam bahasa al-Our’an. Tidak ada peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau keangkuhan.

Setelah menjaga hubungan baik dengan Allah dengan melaksanakan ibadah salat, maka seseorang Muslim yang ingin menjadi manusia terbaik sebagaimana yang telah kita sebutkan tadi, juga hendaknya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, saling menasehati, peka terhadap kehidupan sosial, memiliki sikap peduli terhadap sesama, membantu orang-orang yang membutuhkan bukan malah lari atau berpikir akan ada orang lain yang akan membantunya. Dalam sebuah hadis disebutkan “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat untuk manusia (orang lain)”

Baca Juga : Definisi Manajemen Pendidikan Islam

Pustaka : Shulhan, Muwahid, dan Soim. 2013. Strategi Dasar Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Yogyakarta : Teras