Potensi Diri : Pengertian, Macam-Macam,

potensi diri

Potensi, mungkin kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan, kita semua memiliki yang namanya potensi pada diri masing-masing. Akan tetapi, mungkin kita belum menyadari akan potensi diri kita. Berikut ini akan dibahas secara lengkap meliputi pengertian, macam-macam, dan pengenalan potensi diri.

Pengertian Potensi

Pengertian potensi menurut istilah, kata potensi berasal dari bahasa Inggris to potent yang berarti keras atau kuat. Dalam pemahaman lain kurang lebih semakna, kata potensial memiliki arti kekuatan, kemampuan, dan daya, baik yang belum maupun yang sudah terwujud, tetapi belum optimal.

Sementara itu, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengertian dari potensi adalah kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh seseorang, namun belum digunakan secara maksimal.

Kedua pengertian tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa potensi merupakan suatu daya yang dimiliki oleh manusia. Akan tetapi, daya tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, yang menjadi tugas berikutnya bagi manusia yang berpotensi adalah bagaimana mengoptimalkan potensi tersebut untuk meraih prestasi.

Klasifikasi Potensi

Secara umum, potensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut ini.

1. Kemampuan dasar, seperti tingkatan inteligensi, kemampuan abstraksi, logika, dan daya tangkap.

2. Sikap kerja, seperti ketekunan, ketelitian, tempo kerja, dan daya tahan terhadap tekanan.

3. Kepribadian, yaitu pola menyeluruh terhadap semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, rohani, emosional, maupun sosial yang ditata dengan cara yang khas di bawah pengaruh dari luar. Pola ini berbentuk tingkah laku dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana yang dikehendaki. Beberapa contoh kepribadian, antara lain ikhlas, tulus, lincah, cerdas, dan lain sebagainya.

Macam-macam potensi

Secara umum, macam-macam potensi manusia adalah sebagai berikut.

  1. Potensi fisik, merupakan organ fisik manusia yang dapat digunakan dan diberdayakan untuk berbagai kepentingan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Potensi fisik berfungsi sesuai dengan jenisnya. Contohnya, mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar, dan sebagainya.
  2. Potensi mental intelektual (intelectual quotient), merupakan potensi kecerdasan yang ada pada otak manusia (terutama otak belahan kiri). Potensi ini berfungsi, antara lain menganalisis, menghitung, merencanakan sesuatu, dan sebagainya.
  3. Potensi sosial emosional (emotional quotient), merupakan potensi kecerdasan yang ada pada otak manusia (terutama otak belahan kanan). Potensi ini berfungsi, antara lain untuk mengendalikan amarah, bertanggung jawab, motivasi, kesadaran diri, dan sebagainya. Emotional quotient (EQ) lebih banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua dan lingkungan.
  4. Potensi mental spiritual (spiritual quotient), merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar (bukan hanya mengetahui nilai, tetapi menemukan nilai). Dengan SQ manusia dapat muncul sebagai makhluk yang utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual. Cara pengungkapan SQ adalah melalui pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti.
  5. Potensi ketangguhan (adversity quotient), merupakan potensi kecerdasan manusia yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan keuletan, ketangguhan, dan daya juang yang tinggi. AQ merupakan salah satu faktor spesifik sukses (prestasi) seseorang karena mampu merespons berbagai kesulitan dengan baik. Dengan AQ, berarti seseorang telah mampu mengubah rintangan menjadi peluang.

Pentingnya Ambisi

Potensi-potensi tersebut, pada dasarnya masih merupakan kemampuan yang belum terwujud secara optimal. Oleh karena itu, dibutuhkan hal lain agar potensi tersebut dapat didayagunakan, tentu saja manusia mesti memiliki ambisi. Ambisi inilah yang mendorong orang untuk berusaha meraih keinginannya. Tanpa ambisi, orang hanya akan merasa puas dengan kondisi yang dimilikinya sekarang, tidak ada keinginan untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Walaupun demikian, kita harus mampu untuk menakar kemampuan diri. Jangan sampai ambisi yang berlebihan, yang berada di luar jangkauan dan kewajaran justru membawa kita ke jurang kesombongan dan mendorong pada kegagalan.

Ambisi adalah dorongan untuk mencapai hasil yang diperlihatkan dan dihargai oleh orang lain. Menurut ilmu jiwa, ”keberhasilan” dimaksudkan untuk mempertinggi rasa harga diri dan memperkuat kesadaran diri. Ambisi yang berlebihan (ambisius) mungkin merupakan alat untuk menutupi ketidakberhasilan, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun perasaan rendah diri. Ambisi berbeda dengan cita-cita dan target.

Apa itu ambisi?

Ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Cita-cita adalah suatu keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Target adalah sasaran (batas ketentuan, dan sebagainya) yang telah ditetapkan untuk dicapai.

Motivasi untuk mencapai hasil bukanlah bawaan, tetapi dibentuk melalui pendidikan. Masyarakat kita yang berorientasi pada sukses dan prestasi, membuat orang tua mendorong ambisi anak dan muridnya. Akan tetapi, banyak orang tidak menyadari bahwa ambisi yang berlebihan merusak keberhasilan. R.G. Stennet dapat memperlihatkan bahwa, ambisi yang berlebihan memberi efek buruk terhadap hasil yang dicapai.

Ambisi yang berlebihan (ambisius) berakibat negatif, tidak hanya terhadap perkembangan kemampuan untuk berhasil, tetapi juga terhadap perkembangan sosial. Orang yang punya ambisi berlebihan cenderung egois dalam mencapai sasarannya. Oleh karena orang yang ambisius lebih memusatkan perhatian pada tujuannya sendiri tanpa memerhatikan tujuan orang lain, dan tidak terbuka pikirannya terhadap orang lain.

Pengenalan Potensi Diri

Setiap orang memiliki potensi, tetapi tidak setiap orang mampu mengenali potensinya sendiri untuk kemudian didayagunakan demi kesuksesan dirinya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa langkah awal untuk menuju sukses adalah mengenali potensi diri kita sendiri. Jika kita mengenali apa yang mungkin menjadi kelebihan kita dibandingkan orang lain, maka selanjutnya kita dapat bekerja keras untuk mengembangkannya. Setiap bakat, kegemaran atau kebiasaan tertentu dapat saja merupakan potensi yang akan berubah menjadi prestasi jika kita mengasah hal tersebut.

Perlunya mengetahui potensi diri adalah sebagai upaya untuk memperluas dan memperdalam kesadaran mengenai berbagai kecenderungan dan kekhususan diri sendiri, baik yang sudah teraktualisasi maupun yang belum. Kita dapat mengukur potensi diri dari berbagai kecenderungan atau kelebihan kita. Akan tetapi, karena kecenderungan itu sebagian merupakan hal yang bersifat abstrak, maka pengenalan dan pengukuran kita belum tentu sempurna.

Pada sisi lain, seseorang juga harus mampu bersikap objektif dan realistis dalam memandang potensi dirinya. Objektif bermakna bahwa kita harus mampu mengenal dengan baik apa yang menjadi potensi kita. Hal ini penting karena dengan bersikap objektif kita dapat mengembangkan potensi tersebut secara proporsional, yakni sesuai dengan proporsi, sebanding, seimbang, dan berimbang. Selain itu, kita juga harus realistis, artinya dalam mengukur potensi hendaknya kita berpijak pada kenyataan, misalnya potensi apa yang kita miliki, potensi mana yang harus kita kembangkan, dan lain sebagainya. Jangan sampai kita berusaha tanpa perhitungan dan membuat target yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Hal yang demikian justru dapat membawa kita pada kegagalan, bukan keberhasilan.

Dalam pengembangan diri, pengukuran potensi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang individu, baik yang diperoleh melalui introspeksi diri, melalui feedback dari orang lain, maupun melalui tes psikologi.

Manfaat Pengembangan Potensi Diri

Manfaat pengembangan potensi diri adalah untuk mengembangkan nature dan nurture.

Nature

a. Kepribadian manusia terbentuk dari bawaan/lahir.
b. Merupakan bakat.
c. Dikembangkan dengan pengaruh
lingkungan.

Nurture

a. Kepribadian manusia terbentuk karena pengaruh lingkungan.
b. Tidak merupakan bakat.
c. Dibentuk dan dikembangkan oleh lingkungan.

Pengembangan potensi diri merupakan upaya untuk memaksimalkan potensi-potensi positif (kekuatan-kekuatan) yang ada dan meminimalkan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya. Dengan demikian, seseorang mampu berperilaku sesuai dengan peran yang sedang dimainkannya, baik sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, maupun sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia"