Peristiwa Rengasdengklok : Latar Belakang, Tujuan, Kronologi

peristiwa rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok – Pemuda identik dengan semangat yang menggebu-gebu. Kenyataan inilah yang juga terjadi setelah mengetahui bahwa Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.

Dengan penuh semangat, golongan muda berusaha mendesak golongan tua supaya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Golongan muda selanjutnya berencana menemui golongan tua di kediaman Soekarno. Akan tetapi, sebelum menemui Soekarno golongan muda mengadaka pertemuan di Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Golongan muda yang diwakilli Wilkana, Chairul Saleh, dan Darwis mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa melalui PPKI. Akan tetapi, Soekarno menolak permintaan golongan muda. Sebagai ketua PPKI, Soekarno perlu melakukan musyawarah dengan seluruh anggota PPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pendapat Soekarno didukung Moh. Hatta yang menyatakan bahwa Jepang akan mengakui kemerdekaan Indonesia apabila dilaksanakan oleh PPKI.

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Setelah gagal memengaruhi Soekarno dan Moh. Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, golongan muda kembali berunding menentukan langkah baru. Mereka mengadakan perundingan di Asrama Baperpi, Jalan Cikini Nomor 71. Golongan muda sepakat bahwa mereka tidak akan menyerah sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Seorang pemuda yang bernama Djohan Nur mengusulkan agar membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke suatu tempat di luar Jakarta. Usul ini disetujui Chairul Saleh. Mereka berencana membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok.

Tujuan Pengamanan ke Rengasdengklok

Tujuan rencana membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok agar keduanya tidak terpengaruh Jepang sehingga keinginan golongan muda untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan tidak terhalang.

Baca Juga : Sejarah Keserakahan dan Kekejaman VOC

Kronologi Pengamanan

Rengasdengklok dipilih oleh golongan mudasebagai tempat pengamanan Soekarno dan Hatta karena beberapa pertimbangan antara lain lokasi Rengasdengklok cukup terpencil. Rengasdengklok terletak 15 kilometer dari tepi jalan raya Jakarta-Cirebon. Dengan kondisi seperti ini Jepang tidak akan mudah mendeteksi keberadaan Soekarno dan Moh. Hatta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas Peta yang perwiranya mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selama Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok, kehebohan terjadi di Jakarta karena kedua tokoh tersebut tidak menghadiri sidang PPKI yang seharusnya diadakan pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 10.00. Akibatnya, sidang PPKI dibatalkan. Ahmad Soebardjo, menduga hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta disebabkan oleh aksi penguasa militer Jepang. Ahmad Soebardjo pun menanyakan masalah ini kepada Gunseikanbu. Akan tetapi, Gunseikanbu menyatakan tidak mengetahui keberadaan Soekarno dan Hatta.

Di Rengasdengklok Soekarno-Hatta menghadapi desakan pemuda yang semakin kuat. Meskipun demikian, Soekarno-Hatta tetap tidak bersedia memproklamasikan kemerdekaan tanpa persetujuan PPKI. Akan tetapi, setelah terjadi perbincangan dengan Shodancho Singgih, sikap Soekarno melunak. Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan setelah kembali ke Jakarta. Berita ini segera dikabarkan kepada Wikana yang berada di Jakarta. Wikana pun mengadakan kesepakatan dengan Ahmad Soebardjo bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera dilaksanakan di Jakarta.

Berdasarkan kesepakatan dengan Wikana, Ahmad Soebardjo berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Moh. Hatta. Setelah bertemu Soekarno dan Moh. Hatta, Ahmad Soebardjo menyampaikan kabar bahwa Jepang telah menyerah dan Tadashi Maeda bersedia menjamin keselamatan mereka berdua selama di Jakarta.

Sekian pembahasan materi mengenai sejarah Peristiwa Rengasdengklok dari Synaoo.com. Semoga pembahasan yang diberikan mudah dipahami dan dapat bermanfaat bagi sobat semua.

Selamat Belajar!!!

Seorang penulis yang ingin berbagi ilmu dan bermanfaat bagi khalayak luas