Ilmu mantiq memiliki 10 aspek dasar untuk dipelajari, diantaranya adalah pengertiannya (ta’rif), Obyeknya (maudhu’), Kegunaannya (tsmarah), Keutamaannya (fadhl), Hubungannya dengan ilmu lain (nisbah), Peletak dasar / yang pertama menyusunnya (wadhi’), Namanya (ism), Pengambilannya (istimdad), Hukum mempelajarinya (hukm al-syar’i), Problematikanya (masail).

Pengertian Ilmu Mantiq

Pengertian (ta’rif) Ilmu Mantiq telah dirumuskan oleh para ulama dengan rumusan yang bervariasi meskipun maksudnya sama, yaitu mengungkapkan makna sebagai suatu kata yang dibakukan untuk nama suatu disiplin ilmu.

Berikut adalah beberapa penertian ilmu mantiq :

1.Ilmu Mantiq adalah tatanan berpikir yang dapat memelihara otak dari kesalahan berpikir dengan pertolongan Allah swt.

2.Suatu alat yang mengatur kerja otak dalam berpikir agar terhindar dari kesalahan; selain merupakan ilmu kecermatan praktis.

3.Ilmu yang membahas obyek-obyek pengetahuan tashawwur dan tashdiq untuk mencapai interaksi dari keduanya atau suatu pemahaman yang dapat mendeskripsikan tashawwur dan tashdiq.

Dari ketiga pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Ilmu manitiq adalah ilmu yang membahas tata aturan berpikir benar berkenaan dengan obyek pikir untuk memperoleh kebenaran.

Baca Juga : Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Manfaat

Obyek Ilmu Mantiq

Obyek ilmu mantiq adalah suatu istilah dalam setiap disiplin ilmu. Pengertian obyek sendiri yaitu :

1. Segala sesuatu berupa esensi dan substansi yang dikaji dalam berbagai ilmu.

2. Suatu esensi dan substansi yang dibahas oleh suatu disiplin ilmu. Dengan demikian, obyek ilmu mantiq adalah esensi dan substansinya.

 

Lebih lanjut yang menjadi obyek Ilmu Mantiq adalah seperti yang dikemukakan oleh beberapa ulama berikut:

1. Tashawwur dan tashdiq yang akan menghasilkan takrif/definisi (hujjah)

2. Pemahaman makna suatu variabel obyek pikir (tashawwur) dan pemahaman hubungan antara dua variabel atau lebih (tashdiq) untuk menghasilkan suatu pengertian dan argumentasi.

Karena suatu disiplin ilmu merupakan pembeda dari disiplin ilmu lainnya, menurut al-Ghazali obyek ilmu mantiq berkenaan dengan batasan (hadd) dan silogisme (qiyas) serta hal-hal yang berkaitan dengan keduanya.

Dengan demikian, kegiatan berpikir merupakan kesatuan antara pelaku, obyek, dan metode yang ditempuh.

Sebagai kesimpulan, bahwa obyek kajian Ilmu Mantiq adalah pengkajian terhadap esensi dan substansi subyek/pelaku nalar (nathiq), obyek nalar (manthuq), dan metode nalar (manhaj nathiq).

Tujuan Mempelajari Ilmu Mantiq

Tujuan dan kegunaan mempelajari Ilmu mantiq diantaranya
adalah :

1. Melatih, mendidik, dan mengembangkan potensi akal dalam mengkaji obyek pikir dengan menggunakan metodologi berpikir.

2. Menempatkan persoalan dan menunaikan tugas pada situasi dan kondisi yang tepat.

3. Membedakan proses dan kesimpulan berpikir yang benar (hak) dan yang salah (batil).

 

Keutamaan Ilmu Mantiq

Keutamaan ilmu manti1 di antaranya dapat mengungguli dan memberi nilai tambah terhadap disiplin ilmu-ilmu
lainnya, sebab kegunaan ilmu manti1 bersifat umum.

Artinya ilmu manti1 membahas tashawwur dan tashdiq, sedangkan setiap disiplin ilmu memuat hasil kegiatan tashawwur dan tashdiq sesuai dengan obyek kajiannya.

Pemahaman kita terhadap ilmu manti1 seperti halnya terhadap ilmu-ilmu lainnya, bertujuan menumbuhkan
kesadaran betapa pentingnya nilai ilmu bagi kehidupan manusia serta mendorong manusia agar tertarik dan mau
mempelajarinya sebagai bagian dari tugas kesehariannya.

Hubungan Ilmu Mantiq dengan Ilmu Lainnya

Hubungan Ilmu Mantiq dengan ilmu ilmu lainnya, dapat dilihat dari segi obyek bahasannya yang universal, yaitu tashawwur dan tashdiq. Sebab, setiap disiplin ilmu berisikan tashawwur dan tashdiq.

Tashawwur dan tashdiq merupakan cara menerangkan dan menetapkan obyek pikir secara esensial dan substansial, yang metodenya dijelaskan dalam Ilmu Mantik. Adapun perwujudan dari tashawwur dan tashdiq adalah suatu disiplin ilmu.

Isi setiap disiplin ilmu adalah keterangan mengenai segala sesuatu yang menjadi obyek bahasannya yang disebut teori. Jadi, isi suatu disiplin ilmu adalah teori tentang sesuatu yang menjadi obyek kajiannya, sedangkan teori
berintikan tashawwur dan tashdiq yang menjadi obyek kajian ilmu mantiq.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa hubungan Ilmu mantiq dengan ilmu ilmu lainnya terletak pada fungsinya sebagai alat dan kaidah pembuatan teori yang menjadi isi setiap disiplin ilmu.

 

Sejarah Ilmu Mantiq

Perkembangan ilmu mantik tidak terlepas dari perjalanan sejarah Filsafat Yunani dan transformasinya ke dalam pemikiran Muslim dalam kegiatan ilmiah. Sejarah perkembangan ilmu mantik tentu saja berkaitan dengan latar belakang munculnya ilmu mantiq dan perintis perintisnya.

Para peneliti sejarah pemikiran manusia menjuluki Aristoteles sebagai peletak dasar bangunan ilmu mantiq. Karya tulis Aristoteles dalam bidang logika di antaranya Organon Oa Laterpratation dan Prior Arsilyteis.

Dalam perkembangan berikutnya, mantiq Aristo ditransfer ke dunia Islam melalui kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa Arab pada zaman Daulah Abbasiyah (tahun 153-656 H). Upaya penerjemahan itu antara lain dilakukan oleh Abdullah bin Mughafa sekretaris Abu Ja’far al-Mansur- dan Muhammad bin Abdullah Mughafa. Setelah itu disusul oleh penulis lain seperti Ya’kub bin Ishak al-Kindi, al-Farabi, ibn Sina, al-Ghazali, dan ibn Rusyd dengan cara memberi ulasan (syarah) dan memilah-milah disesuaikan dengan tradisi ilmiah islami pada zamannya.

Pada era modern muncul pemikir Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan pemikir lainnya yang mengembangkan ilmu mantik melalui karya-karya tulisnya.

Setelah ditransfer ke dunia Islam, Mantiq Yunani terdiri dari tiga corak berikut:

1. Mantiq hasil karya kelompok Peripateticieus (Masya’iyyun) atau mantik aliran Peripatetisme (Masya’iyah), yaitu pengembangan metode Aristo.

2. Mantiq hasil karya keplompok Stoicieus (Rawaqiyun) atau mantiq aliran Stoicisme (Rawaqiyah) yang dikembangkan oleh ahli ilmu Kalam dan ahli Ushul Fiqh.

3. Mantiq hasil karya ahli Tasawuf yang disebut Mantik Isyraqi (Mantiq Isyraqi).

Dalam kategori lain, corak ilmu mantiq dapat pula dikelompokkan menjadi tiga kelompok berikut:

1. Mantiq murni Yunani

2. Mantiq Yunani yang bercampur dengan pemikiran Islam.

3. Mantiq Islami

Mantiq Aristo dapat diterima dan berkembang di dunia pemikiran Islam disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

1. Islam mengajarkan prinsip persamaan derajat antara pemeluk Islam bangsa Arab dan non Arab, berbeda dengan agama non-Islam yang kerapkali memandang rendah masyarakat jajahannya.

2. Adanya prinsip kebebabasan berpikir bagi setiap individu muslim.

3. Adanya sikap terbuka untuk mempelajari ilmu pengetahuan peninggalan karya pemikir Yunani sebagai bagian obyek kajian ilmiah.

 

Nama-Nama Ilmu Mantiq

Para pakar bidang pemikiran menyebut disiplin ilmu yang membahas metodologi berpikir ini dengan sebutan-sebutan berikut:
1. Ilmu Mantiq
2. Ma’yar al-Ulum
3. Ilm al-Mizan
4. Ilm al-Ulum

 

Sumber Pengambilan Ilmu Mantiq

Sumber pengambilan ilmu mantiq adalah akal, yang merupakan hidayah dari Allah swt. Dengan akal, manusia berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Bahkan, karena akal inilah manusia diberi beban untuk memikul hidayah Din al-Islam.

Hidayah yang diberikan Allahkepada manusia –menurut salah seorang mufassir ada lima macam:

1. Hidayah Gharizah (instink), hidayah jenis ini diberikan Allah kepada manusia dan kepada makhluk lainnya.

2. Hidayah Hawasi (penglihatan, pendengaran, peniuman, perasaan, dan perabaan). Hidayah ini diberikan Allah kepada mausia dan makhluk lainnya.

3. Hidayah Akal (penalaran), hidayah ini diberikan Allah kepada manusia, malaikat, dan jin.

4. Hidayah Din al-Islam, hidayah ini diberikan Allah kepada manusia dan jin.

5. Hidsayah Taufiq (kemampuan untuk mencocokkan perilaku dengan hidayah yang keempat). Hidayah ini diberikan Allah kepada manusia dan jin berupa daya ikhtiyari.

 

Hukum Mempelajari Ilmu Mantiq

Para ulama sepakat bahwa hukum mempelajari ilmu mantiq Islami adalah sama dengan mempelajari ilmu keislaman lainnya, sesuai dengan perintah Nabi Muhammad saw.

Adapun mempelajari ilmu mantik yang termasuk kategori Mantiq murni Yunani dan Mantik campuran antara Yunani dan Islam terdapat perbedaan pendapat (ikhtilaf) seperti berikut:

1. Kelompok ibnu Shalah dan Imam Abu Zakaria Yahya berpendapat bahwa hukum mempelajarinya adalah haram.

2. Kelompok Imam al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajarinya diperbolehkan, dengan catatan:

  • Orang yang mempelajarinya cerdas,
  • Dikaitkan dalam upaya memperdalam al-Quran dan al-Sunnah, serta mempertahankan keduanya dari serangan
    pemikiran yang mengingkari keduanya, dan
  • Dalam upaya mencari kebenaran.

3. Sebagian kelompok Sunni dan Sufi, seperti Syukhrawardi menganggapnya haram, bahkan menentang dan memeranginya.

Selain itu ada pula yang beranggapan bahwa mempelajari Mantiq murni Yunani dan Mantiq campuran antara Yunani dan Islam adalah wajib kifayah, yaitu suatu kewajiban yang dapat diwakili, tidak setiap orang mesti mempelajarinya.

 

Problematika Kajian Ilmu Mantiq

Problematika (masa’il) jamak dari mas’alah secara bahasa berarti persoalan. Adapun secara terminologi atau definitif sebagai berikut:

1. Problematika adalah keputusan-keputusan yang dicari dalam suatu disiplin ilmu. Adapun yang menjadi obyeknya adalah obyek ilmu, sifat esensial ilmu, atau susunan kaidah-kaidah, sedangkan yang menjadi subyeknya adalah perkara-perkara bagian luar yang melekat pada esensi persoalan ilmu.

2. Problematika kajian Mantiq adalah keputusan-keputusan penalaran yang dikaji dalam proses pemahaman obyek nalar, kias (silogisme), dans sesuatu yang dibuktikan oleh Mantiq.

Dari dua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi problematika Ilmu Mantik adalah:

  • Pengkajian terhadap pengertian.
  • Pengkajian terhadap kekputusan.
  • Pengkajian terhadap penuturan.
  • Pengkajian terhadap pembuktian kebenaran penalaran.

Sekian materi dari Synaoo.com tentang Ilmu Mantiq.

Semoga materi singkat yang diberikan dapat bermanfaat.

Terimakasih.