Manajemen pendidikan Islam merupakan manajemen kelembagaan Islam yang bertujuan untuk menunjang perkembangan dan penyelenggaraanp pengajaran dan pembelajaran.

Dengan demikian manajemen pendidikan Islam berkaitan erat dengan penerapan hasil berfikir rasional untuk mengorganisasikan kegiatan yang menunjang pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan erat dengan pembelajaran perlu direncanakan dan dikelola dengan sebeik mungkin. Untuk merencanakadnan mengelola agar bisa mencapai tujuan yang diharapkan, seorang manajer harus mempunyai kemampuan konseptual (conceptual skill), kemampuan teknis (tehnical skill), dan hubungan insani (human skill).

Ketrampilan konseptual adalah kemampuan untuk memahami kompleksitas organisasi secara utuh atau menyeluruh sesuai dengan perilaku dan kegiattan organisasi. Kegiatan itu harus sejalan dengan tujuan organisasi seara keseluruhan dan bukan hanya untuk kepentingan seseorang atau kelompok (ability fits of organization). Kerrampilan teknis merupakan kemampuan dalam mendayagunakan pengetahuan, metode, teknik dan peralatan yang diperlukan dalam unjuk kerja (performansi) tugas-tugas spesifik yang diperoleh melalui pengalaman, pendidikan, dan pelatihan.

Sedangkan ketrampilan hubungan manusiawi merupakan kemampuan (ability) dan pertimbangan (judgemeni) dalam melaksanakan kerja sama melalui orang lain, termasuk di dalamnya pemahaman tentang motivasi dan aplikasi kepemimpinan yang elektif.

Bidang Garapan Manajemen Pendidikan Islam

Selanjutnya dapat dikemukakan bahwa dalam manajemen terdapat beberapa kegiatan yang harus dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah diterapkan secara efektif dan efisien.

Adapun kegiatan-kegiatan tersebut adalah:

  1. Perencanaan (planning)
  2. Pengorganisasian (organizing)
  3. Pemberian motivasi (morivating)
  4. Pengawasan (controlling) dan
  5. Penilaian (evaluating).

Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah, kelima fungsi itu dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di madrasah, faktor perencanaan sangat menentukan lancar tidaknya kegiatan. Seringkali dijumpai suatu aktivitas pendidikan di madrasah yang tidak lancar, berjalan apa adanya, bahkan terkadang tersendat di tengah jalan karena kurang adanya perencanaan yang matang. Begitu urgennya perencanaan itu, Ngalim Purwanto mengatakan:

Perencanaan merupakan salah sa tu syarat mudak bagi setiap kegiatan administrasi. Tanpa perencanaan atau planning, pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan adalah tujuan dan sarana, baik sarana personal maupun material. Adapun prosedur yang perlu ditempuh dalam perencanaan adalah:

1) Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
2) Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan yang akan dilakukan.
3) Mengumpulkan data dan informasi-informasi yang diperlukan.
4) Menencukan tahap-tahap atau rangkaian-rangkaian kegiatan.
5) Merumuskan bagaimana masalah-masalah akan dipecahkan dan
6) Bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan

Dengan perencanaan, diharapkan aktivitas di madrasah akan berjalan dengan lancar menuju pada tujuan yang telah ditetapkan.

2. Pengorganisasian (organizing) :

Setelah melalui tahap perencanaan, langkah selanjutnya adalah pengorganisasian. Suatu perencanaan akan menjadi kacau dalam pelaksanaannya kalau tidak didukung oleh pengorganisasian yang baik dan rapi. Sondang P Siagian mengatakan bahwa peng- organisasian adalah: keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan Wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dicerapkan.

Dari pernyataan ini mengandung pengertian bahwa pengorganisasian merupakan proses penyusunan dan pengaturan personal sesuai dengan tugas dan wewenang serta tanggung jawab yang diserahkan sehingga nampak jelas hubungan masing-masing yang pada akhirnya dapat digerakkan sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Dalam struktur organisasi di madrasah terdapat: kepala madrasah, wakil kepala, wali kelas, serta beberapa seksi yang bertugas membantu kelancaran proses pendidikan misalnya kesiswaan dan kurikulum. Semua itu menggambarkan adanya pembagian tugas dan tanggung jawab serta wewenang di madrasah.

Adanya pengorganisasian di madrasah memang penting, mengingat banyak pekerjaan yang harus disclesaikan. Hal itu tidak cukup hanya dikerjakan oleh satu, dua orang saja. Karena sulic untuk mencari orang yang mempunyai keahlian di berbagai bidang pekerjaan sekaligus.

3. Pemberian motivasi (motivating)

Setelah adanya perencanaan dan pengorganisasian yang baik, langkah selanjutnya adalah pemberian motivasi Onotivating). Son- dang P Siagian mengarakan: “Keseluruhan proses pemberian motivasi kepada bawahan dilakukan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerjaan dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi yang efisicn dan ekonomis”.

Dari definisi di atas dapat dikerahui bahwa aktifitas pendidikan di madrasah tidak akan berjalan lancar dan dinamis tanpa adanya motivasi dari pihak atasan (kepala), kepada pihak bawahan (guru dan karyawan), sekalipun telah diadakan perencanaan dan pengorganisasian yang matang. Tanpa motivasi, para bawahan mungkin akan bekerja dengan jiwa yang kosong dan kurang didasari oleh rasa tanggung jawab atas pekerjaan yang dilaksanakannya, sehingga etos kerja bawahan menjadi kurang baik

Karena itulah dalam proses aktivitas pendidikan, kepala madrasah selaku acasan, harus bisa memberikan motivasi kepada para guru dan karyawan dalam melaksanakan tugasnya, harus dapat mengarahkan bagaimana cara melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, mengingat keberhasilan atau kegagalan suaru tugas yang dilaksanakan oleh para guru dan karyawan juga merupakan bagian tanggung jawabnya selaku pimpinan tertinggi di madrasah.

4. Pengawasan (controlling)

Bagaimanapun juga dalam aktivitas pendidikan perlu adanya pengawasan (conrolling), agar aktivitas tersebut dapat berjalan dengan lancar dan teratur, sesuai rencana yang telah diterapkan sebelumnya, sehingga tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai. Sondang P. mengatakan bahwa pengawasan dapat didefinisikan sebagai proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menentukan agar pekerjaan yang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.”

Dalam suatu aktivitas pendidikan, kegiatan pengawasan biasanya disebut supervise. Supervisi sangat penting dilakukan, karena tidak semua bawahan tanpa pengawasan dapat melaksanakan tugasnya sesuai rencana. Supervisi pendidikan sangat berguna untuk memberikan penilaian sementara terhadap para bawahan, apakah sudah sesuai dengan yang telah direncanakan atau belum, disamping hasil pengawasan juga dapat dipergunakan untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan.

5. Evaluasi (Evaluating)

Setelah ke empat tahapan di atas, tahapan berikucnya adalah memberikan penilaian (eveluating) terhadap hasil kerja yang telah dilaksanakan. Hasil penilaian, dijadikan sebagai acuan dalam melakukan perbaikan dan penyempurnaan, untuk mencapai tujuan yang telah ditecapkan. Pendidikan merupakan proses kegiatan yang berjalan secara berurutan dan tercncana. Salah satu unsur pokok yang diperlukan bagi kelangsungan proses pendidikan di madrasah adalah adanya situasi dan kondisi yang aman dan tentram di lingkungan madrasah.

Segenap warga madrasah hendaknya menyadari betapa pentingnya uncuk selalu menimbulkan dorongan dan hasrat dalam usaha memelihara serta menjamin kelangsungan proses pendidikan dalam segala segi kehidupan di madrasah agar tetap berjalan tertib serta terhindar dari segala bentuk gangguan baik dari dalam maupun dari luar.

Apabila madrasah dipandang sebagai masyarakat belajar, memberikan indikasi bahwa di madrasah terjadi proses interaksi antara guru dan siswa, serta lingkungan yang menumbuhkan kemampuan dan kesadaran untuk belajar. Sebagai masyarakat belajar, dilingkungan madrasah disepakati diberlakukannya tata nilai yang terpuji dan mengikat seluruh warga madrasah. Dengan demikian madrasah sebagai suaru masyarakat belajar memiliki ciri-ciri pokok:

a) Terciptanya kesadaran dan kemauan masyarakat siswa untuk belajar.

b) Madrasah dipandang sebagai teladan masyarakat di lingkungannya.

Madrasah merupakan lembaga pendidikan formal sebagai tempat membina dan mengembangkan pandangan dan cita-cita bangsa. Dengan demikian maka madrasah hendaknya dimanaj dengan manajemen yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan pendidikan modern, agar madrasah tidak ketinggalan dari masyarakatnya sendiri. Jika ini ti dak diperhatikan maka madrasah hanya sebagai kegiaran rutinitas yang tidak banyak memberikan arti bagi kemajuan bangsa.

Baca Juga : Prinsip-Prinsip Manajemen Pendidikan Islam

Pustaka : Shulhan, Muwahid, dan Soim. 2013. Strategi Dasar Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Yogyakarta : Teras