Bentuk-Bentuk Hadits Beserta Contohnya

bentuk-bentuk hadits

Bentuk-Bentuk Hadits – Hadits merupakan segala perkataan, perbuatan dan pernyataan Nabi Muhammad SAW.

Bentuk-Bentuk Hadits

  1. Hadits Qouli (Perkataan)
  2. Hadits Fi’li (Perbuatan)
  3. Taqrir (Ketetapan)
  4. Hammi (Keinginan)
  5. Ahwali (Hal iwal)

Berikut ini adalah penjelasan lengkap beserta contoh dari bentuk-bentuk hadits sebagai berikut.

1. Hadits Qouli

Hadits qouli adalah segala bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi SAW.

Dengan kata lain, hadits qouli adalah hadits berupa perkataan Nabi SAW yang berisi berbagai tuntunan dan petunjuk syara’, peristiwa, dan kisah, baik yang berkaitan dengan aspek akidah, syariat, ataupun akhlak.

Contoh Hadits Qouli

Diantara contoh hadits qouli adalah hadis yang berkaitan tentang kecaman Rasul kepada orang-orang yang mencoba memalsukan hadis-hadis yang berasal dari Rasulullah SAW.

أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka.” (HR. Muslim No. 4)

2. Hadits Fi’li

Pengertian hadits fi’li adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadits fi’li tersebut terdapat berita tentang perbuatan Nabi Muhammad SAW, yang menjadi anutan perilaku para sahabat pada saat itu dan menjadi keharusan bagi seluruh umat Islam untuk mengikutinya.

Hadits yang termasuk kategari ini diantaranya adalah hadis-hadis yang di dalamnya terdapat kata-kata kanayaksimu atau ra’atul ra’aina.

Contoh Hadits Fi’li

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ فَيَعْدِلُ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِي فِيمَا أَمْلِكُ فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي الْقَلْبَ

Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma’il], telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [Abdullah bin Yazid Al Khathmi] dari [Aisyah], ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pembagian dan berbuat adil dalam membagi, dan beliau berkata: “Ya Allah, inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah Engkau cela aku pada sesuatu yang Engkau mampu dan tidak aku mampu.” Abu Daud berkata; yaitu hati. (HR. Abu Daud No. 1882)

3. Hadits Taqriri

Hadits taqriri adalah hadits berupa ketetapan Nabi Muhammad SAW terhadap apa yang datang atau dilakukan oleh para sahabatnya.

Nabi Muhammad SAW membiarkan atau mendiamkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabatnya, tanpa memberikan penegasan, apakah beliau membenarkan atau mempermasalahkannya.

Sikap Nabi yang demikian tersebut dijadikan dasar oleh para sahabat sebagai dalil taqriri, yang dapat dijadikan hujah atau memiliki kekuatan hukum untuk menetapkan suatu kepastian Syara’.

Contoh Hadits Taqriri

Diantara contoh hadis taqriri adalah sikap Rasulullah SAW yang membiarkan para sahabat dalam menafsirkan sabdanya tentang shalat pada suatu peperangan, yaitu sebagai berikut.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika perang al-Ahzab: “Janganlah seseorang melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Setelah berangkat, sebagian dari pasukan melaksanakan shalat ‘Ashar di perjalanan sementara sebagian yang lain berkata; “Kami tidak akan shalat kecuali setelah sampai di perkampungan itu.” Sebagian yang lain beralasan; “Justru kita harus shalat, karena maksud beliau bukan seperti itu.” Setelah kejadian ini diberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak menyalahkan satu pihakpun.” (HR. Al-Bukhari No. 3810)

Sebagian sahabat memahami larangan itu berdasarkan pada hakikat perintah tersebut sehingga mereka terlambat dalam melaksanakan shalat Ashar. Segolongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut untuk segera menuju Bani Quraidhah dan serius dalam peperangan dan perjalanannya sehingga dapat shalat tepat pada waktunya. Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi Muhammad SAW tanpa ada yang disalahkan atau diingkarinya.

4. Hadits Hammi

Hadits hammi adalah hadis yang berupa keinginan atau hasrat Nabi Muhammad SAW yang belum terealisasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 ‘Asyura.

Contoh Hadits Hammi

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ أَنَّ إِسْمَعِيلَ بْنَ أُمَيَّةَ الْقُرَشِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ حِينَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Daud Al Mahri], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb], telah mengabarkan kepadaku [Yahya bin Ayyub], bahwa [Isma’il bin Umayyah Al Qurasyi] telah menceritakan kepadanya bahwa ia telah mendengar [Abu Ghatafan] berkata; saya mendengar [Abdullah bin Abbas] ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura ia berkata; dan beliau memerintahkan kami agar berpuasa pada hari tersebut. Para sahabat kertanya; wahai Rasulullah, itu adalah hari dimana orang-orang yahudi dan nashrani mengagungkannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila tahun depan maka kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” Kemudian belum datang tahun depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia. (HR. Abu Dawud No. 2089)

Nabi Muhammad SAW belum sempat merealisasikan hasratnya ini karena beliau wafat sebelum datang bulan ‘Asyura tahun berikutnya. Menurut para ulama, seperti Asy-Syafi’i dan para pengikutnya, menjalankan hadits hammi ini disunnahkan, sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah lainnya.

5. Hadits Ahwali

Hadits ahwali adalah hadis yang berupa hal ikhwal Nabi Muhammad SAW yang tidak termasuk ke dalam kategori ini adalah hadits-hadits yang menyangkut sifat-sifat dan kepribadian, serta keadaan fasik Nabi SAW.

Contoh Hadits Ahwali

Sifat Nabi Muhammad SAW diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Annas bin Malik, sebagai berikut.

كَانَ رَسُوْلُ اللهَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُـــلُـــقًا

Rasulullah adalah manusia yang terbaik akhlaknya (HR. Muslim)

Tentang kedaan disik Rasulullah SAW dijelaskan dalam hadits berikut.

كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ

Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling tampan dan paling pemberani (HR al-Bukhâri dan Muslim)

Dalam hadits lainnya disebutkan bahwa Anas bin Malik berkata,

حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ سَلَامٍ أَخْبَرَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ صِيَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا كُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَرَاهُ مِنْ الشَّهْرِ صَائِمًا إِلَّا رَأَيْتُهُ وَلَا مُفْطِرًا إِلَّا رَأَيْتُهُ وَلَا مِنْ اللَّيْلِ قَائِمًا إِلَّا رَأَيْتُهُ وَلَا نَائِمًا إِلَّا رَأَيْتُهُ وَلَا مَسِسْتُ خَزَّةً وَلَا حَرِيرَةً أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ مِسْكَةً وَلَا عَبِيرَةً أَطْيَبَ رَائِحَةً مِنْ رَائِحَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada saya [Muhammad]. Dia adalah Ibnu Salam telah mengabarkan kepada kami [Abu Khalid Al Ahmar] telah mengabarkan kepada kami dari [Humaid] berkata; Aku bertanya kepada [Anas radliallahu ‘anhu] tentang shaum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia berkata: “Tidaklah aku ingin melihat Beliau berpuasa dalam suatu bulan kecuali aku pasti melihatnya, begitu juga tidaklah aku ingin melihat beliau tidak berpuasa, pasti aku juga bisa melihatnya. Dan saat Beliau berdiri shalat malam melainkan aku melihatnya begitu juga bila Beliau tidur melainkan aku juga pernah melihatnya. Dan belum pernah aku menyentuh sutera campuran ataupun sutera halus yang melebihi halusnya telapak tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan belum pernah pula aku mencium bau wewangian minyak kasturi dan wewangian lain yang lebih harum dari keharuman (badan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari No. 1837)

Sekian pembahasan mengenai bentuk-bentuk hadits beserta contohnya. Semoga pembahasan bentuk-bentuk hadits yang disajikan dapat bermanfaat.

Terimakasih.

"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia"