Apa itu Tritura? Aksi-aksi Tritura adalah aksi demonstrasi rakyat Indonesia yang dimotori oleh mahassiswa dengan mengajukan Tiga Tuntutan Rakyat.

Lalu apa yang melatar belakangi aksi ini, dan apa isi dari Tiga Tuntutan Rakyat, serta bagaimana proses terjadinya peristiwa aksi-aksi Tritura? Berikut adalah materi penjelasan selengkapanya.

Latar Belakang Aksi Tritura

Pada awal tahun 1966 Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga pemerintah harus menaikkan harga bensin yang semula Rp 4,00 menjadi Rp 25,00. Kenaikan harga bensin berimbas pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok sehingga menambah kesengsaraan rakyat.

Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya devaluasi mata uang. Devaluasi merupakan merupakan kebijakan menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap uang luar negeri atau emas.

Kebijakan devaluasi yang ditetapkan pemerintah pada tahun 1966 dilakukan dengan cara menarik uang pecahan Rp 10.000,00 dan Rp 5.000,00 dari peredaran. Kemudian nilai mata uang tersebut dipotong.

Kondisi perekonomian yang buruk beriringan dengan terjadinya konflik politik di tingkat elit. Peristiwa G 30 S/PKI menyebabkan situasi politik di Indonesia memanas. Pemberontakan PKI menjadi salah satu faktor pendorong rakyat yang dimotori mahasiswa menyampaikan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura).

Isi Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura)

Tuntutan yang terdapat dalam Tritura diantaranya sebagai berikut.

  1. Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya.
  2. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI.
  3. Turunkan harga-harga kebutuhan pokok.

Peristiwa Aksi-Aksi Tritura

Mahasiswa yang menyampaikan Tritura tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). KAMI lahir karena kepedulian mahasiswa terhadap kondisi Indonesia yang tidak stabil.

KAMI bersama dengan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) membentuk barisan yang bernama Front Pancasila.

Demonstrasi pertama yang dilakukan mahasisiwa terjadi pada tanggal 8 Januari 1966 di gedung Sekretariat Negara. Dalam perjalanan menuju ke sana, para demonstran meneriakkan aspirasi-aspirasi rakyat Indonesia yang terkandung dalam Tritura. Para demonstran meneriakkan beberapa tuntutan seperti turunkan harga dan singkirkan menteri yang tidak becus.

Pada tanggal 10 November 1966 KAMI Universitas Indonesia mengadakan ceramah dan seminar ekonomi di Aula Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta. Dalam seminar ini mengundang komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sebagai pembicara. Pada hari yang sama, KAMI pusat mengadakan rapat umum di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang dihadiri oleh perwakilan dari berbagai kelompok pemuda dan mahasiswa.

Demonstrasi

Pada tanggal 12 Januari 1966 berbagai kelompok pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam front Pancasila melakukan demonstrasi. Demonstrasi yang dipelopori oleh KAMI dan KPPI ini dilakukan di depan gedung DPR-GR. Pada demonstrasi ini para demonstran meminta pemerintah melaksanakan tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam Tritura.

Demonstrasi dan gerakan mahasisiwa menjalah hingga ke kota-kota lain di luar Jakarta. Demonstrasi mahasisiwa ini juga menyebabkan dua kelompok yang bertentangan, yaitu kelompok yang pro pemerintah dan anti pemerintah. Pertentangan kedua kelompok ini sempat menimbulkan bentrokan.

Untuk menenangkan rakyat dan stabilitas negara, Presiden Soekarno melakukan perubahan Kabinet Dwikora menjadi Kabinet 100 Menteri. Namun, kabinet ini ternyata belum juga memuaskan hati rakyat karena di dalamnya masih ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa G30S PKI.

Di saat pelantikan Kabinet 100 Menteri pada tgl 24 Pebruari 1966, para mahasiswa, pelajar dan pemuda memenuhi jalan-jalan yang menuju ke Istana Merdeka.

Aksi itu dihadang oleh pasukan Cakrabirawa sehingga menyebabkan bentrok antara pasukan Cakrabirawa dengan para demonstran yang menyebabkan gugurnya seorang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bernama Arief Rahman Hakim. Ia tertembak saat sedang berdemonstrasi di depan Istana Negara.

Pembubaran KAMI

Pada tanggal 25 Februari 1966 Presiden Soekarno akhirnya membubarkan KAMI. Pembubaran KAMI diprotes oleh kelompok mahasiswa Bandung dengan mengeluarkan “Ikrar Keadilan dan Kebenaran”. Mahasiswa Bandung mengajak seluruh rakyat Indonesia melanjutkan perjuangan KAMI melanjutkan perjuangan KAMI. Protes terhadap pembubaran KAMI turut dilakukan oleh Front Pancasila. Front Pancasila meminta pemerintah meninjau kembali pembubaran KAMI.

Pada tanggal 8 Maret 1966 para pelajar dan mahasiswa melakukan demonstrasi di depan gedung departemen luar negeri. Dalam aksi ini, para mahasiswa dan pemuda melakukan pembakaran terhadap kantor berita Tiongkok, Hsin Hua. Pembakaran ini memicu kemarahan Presiden Soekarno. Pada hari itu juga Presiden Soekarno menyampaikan supaya rakyat waspada terhadap tindakan-tindakan provokasi yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Berbagai aksi demonstrasi mereda setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Gerakan mahasiswa pada masa transisi ini dikenal dengan sebutan Angkatan ’66. Gerakan ini menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa dengan lingkup nasional. Tokoh-tokoh mahasiswa dalam gerakan-gerakan ini antara lain Cosmas Batubara, Yusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, dan Akbar Tanjung.

Gerakan angkatan ’66 berhasil membangun kepercayaan masyarakat ¬†untuk mendukung mahasiswa menentang komunisme. Pada masa Orde Baru aktivis Angkatan ’66 mendapatkan jatah kursi di DPR dan MPR, serta diangkat sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan Orde Baru.

Sekian pembahasan singakat dari Synaoo.com tentang Aksi-Aksi Tritura di era transisi orde lama ke orde baru.

Semoga materi yang diberikan dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita.

Terimakasih.