Setiap ilmu pasti memiliki pendekatan atau objek formal dalam mengkaji objek kajiannya termasuk ilmu geografi. Pendekatan dapat diartikan sebagai cara pandang dalam memahami suatu fenomena atau gejala.

Contoh sederhananya jika terdapat fenomena erupsi gunung api maka kalau anda ahli ekonomi maka hal pertama yang dibahas pasti tentang taksiran nilai kerugian akibat bencana tersebut atau hal-hal bersifat ekonomi lainnya. Sedangkan ahli geografi ketika terjadi erupsi gunung api maka yang akan dilihat adalah soal proses terjadinya, penyebaran daerah terdampak erupsi lalu keterkaitannya dengan gejala lain.

Pendekatan geografi menawarkan cara unik untuk memahami fenomena apapun yang tersebar dalam ruang permukaan bumi termasuk perubahannya karena hubungan antara manusia dengan lingkungan dan selanjutnya membuat prediksi bahkan solusi alternatif dalam masalah fenomena ruang tersebut.

Pendekatan Geografi

Dalam geografi dikenal 3 pendekatan yang digunakan dalam menganalisa gejala geosfer yaitu pendekatan keruangan (spatial approach), pendekatan kelingkungan (ecological approach) dan pendekatan kompleks wilayah ( regional complex approach).

1. Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui persebaran dalam penggunaan ruang yang telah ada dan bagaimana penyediaan ruang akan dirancang. Pendekatan keruangan merupakan pendekatan khas dalam geografi.

Dalam ruang permukaan bumi terdapat unit-unit atau variabel-variabel yang berpengaruh terhadap pembentukkan dan perubahan struktur ruang itu sendiri.

Inti dari pendekatan keruangan adalah melihat suatu gejala atau fenomena baik gejala alamiah maupun sosial dari sisi penyebarannya sehingga peta merupakan salah satu alat bantu untuk melihat penyebaran tersebut. Setelah penyebaran didapat maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah melihat pola dan proses terjadinya penyebaran tersebut.

Ada sembilan tema yang dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan keruangan, diantaranya sebagai berikut.

a. Spatial Pattern Analysis

Ciri utama dari analisis ini adalah pada sebaran atau distribusi elemen atau fenomena pembentuk ruang. Misalkan kita akan melihat gejala penyebaran industri berat di Jabodetabek. Setelah mengetahui tentang penyebaran lukasi industri tersebut. langkah selanjutnya adalah mengaitkannya dengan aspek-aspek lain seperti pengaruhnya dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan.

b. Spatial Structure Analysis

Ciri dari analisis tema ini adalah dengan melihat susunan elemen-elemen pembentuk ruang terlebih dahulu. Struktur pembentuk ruang dapat dibagi menjadi unsur fisikal dari budaya.

Misalkan struktur ruang desa tentunya beda dengan kota. Desa pada umumnva memiliki struktur ruang yang didominasi oleh lahan agraris dan kondisi masyarakat homogen. Setelah melihat struktur tersebut, maka selanjutnya adalah mengembangkan analisa ke arah yang lebih jauh seperti pengaruh globalisasi terhadap struktur ruang desa atau pola hidup masyarakatnya.

c. Spatial Procces Analysis

Ciri dari tema ini adalah melihat terlebih dahulu proses perubahan yang terjadi pada elemen-elemen pembentuk ruang. Untuk mengetahui proses perubahan ini tentunya diperlukan waktu perbandingan.

Contohnya perubahan pola penggunaan lahan kota Bandung dari tahun 2004-2010. Salah satu cara untuk melihat perubahan penggunaan lahan adalah dengan membandingkan foto udara atau citra satelit. Setelah itu dapat dilakukan analisa lebih jauh tentang pengaruh perubahan lahan terhadap lingkungan, taktor terjadinya perubahan penggunaan lahan dan dampak perubahan lahan terhadap kondisi sesial ekonomi masyarakat sekitar.

d. Spatial Interaction Analysis

Tema ini menekankan pada interaksi yang terjadi pada ruang. Misalkan kita melihat interaksi amara Jakarta dengan Bogor. Selanjutnya adalah menganalisa lebih dalam mengenai faktor interaksi tersebut. kemudian dampaknya bagi kedua daerah yang melakukan interaksi tersebut.

e. Spatial Association Analysis

Tema ini menekankan pada terjadinya asosiasi atau hubungan suatu gejala dalam ruang.

Misalkan bagaimana asosiasi kepadatan penduduk DKI Jakarta dengan tingkat kriminalitas. Untuk melihat hubungan tersebut maka dapat digunakan data-data penunjang seperti citra satelit, data kependudukan dan catatan kepolisian.

f. Spatial Organizationn analysis

Ciri dari tema ini adalah melihat tatanan yang terjadi dalam suatu ruang.

Misalnya bagaimana sistem tata kota di Indonesia. Organisasi ruang DKI Jakarta tentunya akan berbeda dengan organisasi ruang Surabaya. Selanjutnya organisasi ruang tersebut dikembangkan ke arah permasalahan lain seperti dampaknya secara ekonomi, sosial dan ekologi.

g. Spatial Trends Analysis

Ciri dari tema ini adalah melihat terlebih dahulu kecenderungan perubahan suatu gejala atau fenomena.

Misalkan kita melihat kecenderungan perubahan iklim dunia. Setelah dilihat fakta-fakta mengenai perubahan tersebut maka selanjutnya adalah menganalisa tentang faktor-faktor perubahan iklim tersebut kemudian bagaimana dampaknya bagi kehidupan di kemudian hari serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia di bumi.

h. Spatial Comparison Analysis

Tema ini menekankan pada perbandingan suatu ruang dengan ruang yang lain. Setiap ruang di permukaan bumi ini memiliki karakteristik masing-masing. Karakteristik tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat kerangka kebijakan pembangunan wilayah.

Misalkan secara geologis Cirebon memiliki tanah yang datar dibanding Wonosobo yang bermorfologi dataran tinggi. Tentunya pola pembanguan di kedua daerah tersebut akan berbeda. Kesalahan dalam penumIaatan ruang akan membuat dampak negatif di kemudian hari.

i. Spatial Synergian Analysis

Tema ini merupakan perkembangan yang baru terkait dengan globaliasi. Di era teknologi digital saat ini batas-batas wilayah menjadi semakin kabur karena pesatnya teknologi komunikasi dan transportasi. Orang bisa berkomunikasi langsung antar negara dengan internet, hambatan jarak semakin tidak berarti.

Sinergi keruangan ini salah satunya tercermin dari konsep pembangunan wilayah bersama seperti Kartamantul (Yogyakarta, Sleman. Bantul). Konsep tersebut masih sebatas wacana dan belum menjadi suatu desain pembangunan yang mantap karena memerlukan analisa lebih dalam lagi tentang keuntungan dan kelemahannya.

2. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach)

Pendekatan ekologi adalah upaya dalam mengkaji fenomena geosfer khususnya terhadap interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya termasuk dengan organisme hidup yang lain. Pendekatan ekologi merupakan adaptasi dari disiplin ilmu biologi.

Dalam pendekatan ini manusia menjadi fokus utama dalam perubahan struktur susunan keuangan. Di dalam organisme hidup itu manusia merupakan satu komponen yang penting dalam proses interaksi, oleh karena itu muncul istilah ekologi manusia (human ecology) yang mempelajari interaksi antar manusia serta antara manusia dan lingkungan.

Contohnya ketika terjadi banjir bandang di Wasior Papua Barat pada tahun 2010 jika dianalisa menggunakan pendekatan ekologi, banjir tersebut dapat diakibatkan oleh semakin berkurangnya hutan resapan di daerah hulu karena aktivitas pembalakan hutan. Dalam hal ini manusia merupakan aktor utama yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di Wasior kemudian dikombinasikan dengan faktor keruangan seperti hujan deras. struktur tanah dan kondisi wilayah. Jika saja tidak terjadi pembalakan liar di hulu sungai mungkin saja fenomena banjir bandang tersebut dapat diminimalisir.

3. Pendekatan Kompleks Wilayah (Complex Regional Approach)

Pendekatan kompleks wilayahini mengkaji bahwa fenomena geografi yang terjadi di setiap wilayah berbeda-beda, sehingga perbedaan ini membentuk karakteristik wilayah.

Ciri suatu wilayah adalah memiliki batas baik itu yang bersifat administratif maupun imajiner. Perbedaan inilah yang mengakibatkan adanya interaksisuatu wilayah dengan wilayah lain untuk saling memenuhi kebutuhannya semakin tinggi perbedaannya maka interaksi dengan wilayah lainnya semakin tinggi.

Dalam pendekatan kompleks wilayah ini analisa keruangan dan ekologi digabung untuk mengetahui lebih dalam mengenai gejala yang terjadi.

Misalkan kita akan menganalisis tentang Banjir di DKI Jakarta. Dari segi keruangan, DKI Jakarta merupakan daerah dataran rendah dan menjadi muara dari belasan sungai yang berhulu di Jawa Barat. Sedangkan dari segi ekologi kepadatan penduduk yang besar dengan perilaku atau mindset masyarakatnya yang kurang memerhatikan kebersihan lingkungan memperparah tatanan kota besar tersebut.

Oleh karena gabungan dua faktor tersebut maka dari itu DKI Jakarta selalu menjadi langganan banjir setiap tahun. Pendekatan kewilayahan juga (lapan digunakan untuk menganalisis perencanaan pembangunan wilayah karena setiap daerah memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga dibutuhkan kajian yang dalam mengenai arah kebijakan pembangunan.

Kesalahan pengambilan kebijakan tata kelola ruang atau wilayah sering berdampak pada munculnya permasalahan-permasalahan dan bencana di kemudian hari.

Sekian pembahasan mengenai macam-macam pendekatan geografi dari Synaoo.com. Semoga pembahasan materi pendekatan geografi yang diberikan dapat bermanfaat.

Terimakasih.